Pages

Jumat, 29 Mei 2020

RASA



Gerimis di senja hari
turun gemulai menari indah
bulir bulirnya melayang
jatuh menetes menyentuh rasa
angin lembut menyibak
mega berbaris bergegas pergi
berhias sudah sang dewi malam
anggun melangkah sangat menawan
malam hening bersama bintang
genit menggoda lempar senyuman
bergemerisik rumpun bambu
oleh hati yang cemburu

Kemudian Aku,,
Menanti malam di lidah subuh
Menanti subuh di pintu matahari
Menanti siang di senja mengambang
Selama itu hanya coretan coretan di tanah
Semua isi hati tertuang disitu

Tentang sepi,tentang rindu dan harapan


Belum sempat angin mendengar
Belum sempat burung mengintip
Coretan itupun sirna terhapus jejak waktu
Tertindih di telapak kaki dan membisu

Seperti,..,Teriak tak bersuara
terlantar di pojok waktu
dingin menggigil berkeredong
menikmati duka 
meski wadah yang murni
cacat tergores rasa,
namun
sepi nan lembab,,
harus mampu mengenggam
hasrat yang meronta
pergi mengilang
atau tetap bertahan....
tak ada beda,,,,,,,,,,,,,,,,,, 

(seperti cerita majnun)
Majnun telah mengilhaminya tutur bahasa sastra yang indah
rasa rindu dan ketulusan jiwa dalam menanggung derita cinta
tumpah-ruah ia tuangkan dalam bentuk syair dan puisi
Kasih yang tak sampai
Hasrat yang tak mampu ditundukan
membuatnya merasa takdir memusuhinya
akhirnya Qais, pemuda yang tampan,gagah dan pandai
lupa hakikat hidupnya.
sementar Laela terus memanggil manggil namanya
hingga maut mengelusnya
Qais datang meratapi pusara Laela kekasinya
sampai ajal menjemputnya
harta tak mampu membeli cinta keduanya,,

(Majnun..)
selalu bersama embun di kelopak mata
saat aku tulis puisi untukmu
tercurah begitu saja
mengalir dari hulu hati
merayap di dinding nadi
Tak mungkin aku menangis
karena aku sedang bahagia
tapi airmata ini jatuh begitu saja
entah untuk apa
Jika saja kau hadir disini
membawa ember cintamu
dan menampung airmata ini
maka kebahagiaan mana lagi
yang mampu mengalahkan bahagiaku
karena ini adalah puisi hati
puisi hati dari hati
dan hanya untuk hati,,,,,,,
hati yang penuh air cinta
dan hati yang punya ember cinta.

(kenyataannya)
wahai hatiku yang penuh cinta
pergilah ke laut bersama galau,,
biarlah hancur dicabik Hiu,,
atau membusuk di perut cumi cumi
karena disini hadirmu tersisihkan
oleh indahnya syair syair pujangga
yang berpuisi diatas motor gede,
atau bersajak di pintu mobil bermerk
yang berdeklamasi diatas tumpukan
buku buku
yang ceramah dengan judul judul kitab
yang tertulis di jubahnya
yang berorasi di halaman kantornya
sembari menunjukkan pundaknya,
yang bernyanyi di genteng kontrakannya,
yang tersenyum manis di balik jaket almamaternya,,,
wahai hatiku yang penuh cinta
pergilah ke laut bersama galau,,


(pengakuan)
diatas tanah kering
angin riang mencandai debu
sejumput rumput ikut meramaikannya
dengan menari di bawah matahari
peluhnya tak lagi menetes
dan lututnya mulai gemetar
perlahan tangannya didekap ke dada
mengambil doa dari kantong hatinya
menghela napas ditaburan debu
memejam mata bergumam pada awan
berharap membawa embun
basahi daun daun harapan
kemudian ia mengangkat tangannya
di ujung jemari terselip lembaran kecil
bertuliskan ,,,,Aku lagi Galauuu,,,,,,,

Matt Gahel Somamura

0 komentar:

Posting Komentar