Pages

Jumat, 29 Mei 2020

Kehendak Tuhan



(Harapan)
kalau kamu mau,,,
bacakan aku sebait puisi
yang membuat hati ini menari
atau ceritakan dongeng
harapan tentang Tahta ini
sebagai abimantrana
bawakan aku secangkir air bening
sekedar sirami abipraya
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
duduk bersila seperti dewa petapa
tapi tak melihat dimana permata
jika warna pelangi adalah kasta abirupa
mengapa jiwa masih terbungkus abilasa
kutanam benih bersama lumpur,
entah mati entah bersemi
benih tertanam
dan yang terlihat hanya lumpur
tapi aku sudah menanam.
(Kenyataan)
saat hujan menebar cinta
maka hati siapa yang
mampu menghindar
tuk tidak menuai rindu
saat rindu terbelenggu
dalam sesaknya dada
resah mengoyak batas logika
maka siapa yang mampu
menahan titik embun
di kelopak mata
saat rindu membeku
dingin menusuk jiwa
maka siapa yang mampu
membuatnya cair
sebelum ia menggumpal
jadi hati
saat hujan menebar cinta
rindu adalah pendatang
maka siapakah yang mampu
menyadari
dikehendaki atau tidak
bahwa setiap yang datang akan pergi,,,

(serasa terkunci diantara keramaian)
di dalam sini gelap dan pengap
tanah dan dindingnya lembab
dingin sepi dan asing
jangankan tuk meronta
teriakpun tak bisa

di luar sana terdengar indah
obrolan bunga dan kumbang di taman
mentari yang bercanda dengan pelangi
deburan ombak yang melempar buih


kicauan burung dengan suara terindahnya
tarian dedauan yang digoda sang bayu
lagu lagu pujian tentang cinta
tentang Tuhan tentang kemurnian
tentang kesempurnaan tentang...entah.........


terkunci dari dalam, tanpa makanan
tanpa selimut tanpa musik tanpa matahari
menggigil dan gigit jari,

(Ingin Lepas)
sepi tersisih
terhimpit sesak rasa
asing di pelataran pesta
tersudut di sisi hati

hampa menindih
gundah mendera 
merintih tercabik
sukma merana

meringkuk dalam sesak
ada tiada
tiada ada,,,,,,
pecah buyar asa
dilumat kecewa,, 

ada cinta
kecewa ada
Sang Rahwana semena mena,,,,, 
lepaslah,,lepas
hati bebas terlepas,,, bernyanyilah riang
disetiap nafas

(Teringat Janji Kembali)
sesekali berasap
sesekali berkabut
sesekali pelankan
terus melangkah
selagi jalan membentang
bermain di dua alam
seperti menumpukan
dua kaki di dua perahu
diatas ayunan gelombang
menggapai harapan
berpangku tangan
seperti melihat nasi
tak mungkin kenyang
menanti janji yang tak terucapkan
lelah letih adalah bagian
saat janji ditunaikan
pedih perih adalah kebahagiaan

Matt Gahel Somamura

0 komentar:

Posting Komentar