Pages

Seniman sastrawan

SANGAT SEDERHANA SEKALI. kita hanyalah debu

Sang Pengembara

melintasi hari tertusuk dingin sepi, malam tak bertepi

Toko Seni Batik Keren

Didalam batik juga mengandung sejarah dan nilai – nilai tradisi dari bangsa Indonesia yang sangat berharga

Jumat, 29 Mei 2020

WABAH



Aku hanya tamu jangan tutup pintu
Hingga aku tak perlu mengetuk

Aku hanya tamu yang digerakkan Tuhan
Tuk menjenguk

Aku tamumu yang hanya tunduk padaNya
Aku tamu yang tak bertamu pada hati yang bersama angin meluruh سبحان الله di lembah rindu
Aku tamu yang tak bertamu pada mulut yang selalu sibuk menebar harum wewangian الحمد لله di taman cinta
Aku tamu yang tak bertamu pada pikiran yang mengukir لااله الاالله  bersama awan hitam beriring
Dan aku tamu yang tak bertamu pada lidah yang senang menggambar الله اكبر diatas kanvas kehidupan
Aku hanya tamu yang tak bertamu pada nafas yang melukis انالله وانااليه راجعون dalam sketsa harapan
Dan aku tamu yang tak bertamu pada jiwa yang  berbingkai لاحول ولاقوة الا بالله العلي العظيم di gerbang lengkung langit semesta
Aku hanya tamu yang tak bertamu pada ruhani yang melingkar di jari jari tangannya butiran butiran Asmaaaul Husna

Aku adalah tamu yang tak bertamu
Menguji Hamba yang paham

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan
tak pernah bertemu manalah mungkin berpisah
Maka sesungguhnya Aku tamu yang tak bertamu

Setiap bahasa punya cara terserah apa maonya Tuhan ,,,
Bos pemilik Alam Penguasa yang punya kemauan .

Di tangannya seluruh jiwa digenggam dan tunduk pada ketentuan
Berpaling darinya adalah penolakan
Laluuu...jika tahu Tuhan punya tujuan,
Mengapa ini kita risaukan..???

Gusar gundah gulana dan galau
Pedih perih merintih dan sedih
Mencaci membenci iri dengki
Adudomba fitnah dan murka
Bukan kah amarah api tertinggi..
yang menyiksa  membakar melumat seluruh kebaikan hingga menjadi bukan apa apa
Mungkin memeluk larut malam diatas sajadah
Atau bercengkrama manja manja dengan fakir miskin

Minta belas kasihan Tuhan, lebih disukai

Karena bisa jadi kesombongan adalah awal pembuka segala petaka
Tunduk malu menangis dan menyepi
Merenung menyadari mohon ampun
Bersabar menyendiri tak bersuara menanti Tamu berkemas
Sampai akhirnya Tamu bergegas
Aaamiiin...

Sepi....sepilah menyepi....
sukai sepi karena sesungguhnya sepi adalah ramai yang tak terdengar.


Mat Gahel Somamura

RAMADHAN



Sampan milik kita terlalu kecil
Sedang badai tak kenal ampun
Mudah terseok gelombang
Bahkan berlayar dibawah angin pun tak mampu

Mari menepi sebelum karam
Berlabuh lah
Dan ramadhan Pelabuhan terindah

Melempar sauh dibalik pulau
nyalahkan tungku dan berteduh
yakini awan dilangit hari ini bukan awan kemarin
Berlabuh lah
Dan ramadhan Pelabuhan terindah

Tak usah menyesal dan jangan pernah menyesali
sampan kini telah bersandar di dermaga
dan seluruh hasrat tertahan di situ
Sungguh
Ramadhan Pelabuhan terindah 

Dan air mata di kesunyian malam
haruskah menetes sia sia
menguap menjadi kabut
lalu sirna dihempas angin
air mata di kesunyian malam
haruskah terbiar mengendap
membeku di relung hati
membatu di dinding jiwa
air mata di kesunyian malam
tanpa harus atau tidak
kini meluap dihentak rasa
mengalir melewati ambang batas
bergemuruh bersama doa dan mimpi
perih membasahi asa
air mata di kesunyian malam
butirannya bening tak terlihat.........
semua untuk mu,,,,,,,,,

Namun..,apalah arti merasa dalam mimpi
jika susah mengingatnya dikala jaga
seperti ada badan tiada hati
bersama satukan hakikat hati
sesembahan pada pemilik sejati
maka tak peduli jaga mimpi
kesedihan dan tawa adalah tak beda
sepeti taman ada duri dan bunga
semua nampak indah
pelukan harus dilepas
derai air mata hentikanlah
perjalanan mari lanjutkan
ruangan penuh doa
harum kesturi mengiring

Syairku senyum Rembulan diantara nyiur melambai
Aku yang berdiri mematung berselimut gelap
Tak berkedip memandang kagum
Belum Lagi sempat memuji
Awan mengasapi 
Dan senyum rembulan menghilang
Menyisakan bekuan Rindu

meraba rasa dalam hati
entah pergi entah mati
mau apa tak tahu lagi
yang sisa hening sepi
diri kini jadi tak peduli
bersama atau sendiri
disuka atau dibenci
tetap melewati hari
kejujuran keberanian sejati
jika terlontar tak boleh kembali
pahit - manispun jadi
itu resiko yang pasti
diam yang harus dipahami
tertawa yang harus dimengerti
kaki silahkan menapak di bumi
tapi jiwa terbanglah tinggi
kamu aku bukanlah inti
dari makna silaturrahmi
tapi patuh titah suci
itulah tujuan hakiki



Matt Gahel Somamura

MANTAN



kecantikan terpancar dari bola matanya
tinggi semampai,bersih kencang kulitnya
kain motiv kembang dan kebaya putih
membungkus liuk lekuk tubuhnya yang ramping

sanggul hitam dengan tusuk konde bunga melati
senyum manis mengiringi langkah yang aggun
seperti sutera merah bermanik mutiara yang dihembus angin
seperti mawar merah di pagi buta harum baunya

ia seperti Cleopatra pada mitologi Yunani
atau bagai Dewi Sinta pada cerita Pewayangan,,
hemmmm,,,,,,,

sayang,,sayang,sayang berakhir tragis.
kecantikannya membawa malang nasibnya
dimana kau sekarang,,

Hemm...Elok senja di kaki langit
merah merona redamkan nestapa

sungguh harmonis alam berpadu
melukis rona bahagia diruang hati

kini mentari meredup
lalu menitip salam pada rembulan


karena remang sudah mengambang
dan sebentar lagi gelap menjelang
sang bintang tak akan datang
karena sedang sibuk berdandan
sebelum akhirnya jatuh
ditelan lautan,,,,,


saat ini,,
keheningannya merayap di tembok hati
bisikannya mengendap di pikiran
tersentuhlah temali jiwa
lantunkan dawai kerinduan
suaranya memanggil manggil kembali
hasrat yang sedang menggantung di awan
terhentaklah rasa
yang sedang terbaring di dasar lautan
dan terciptalah sebuah taman
tempat bermain hayalan
yang sesungguhnya adalah
penjara sempit dan kumuh
yang membelenggu batin
malam ,,,,
cepatlah berlalu,,!

(monolog ku pada hati)
tidurlah hati
selimut ini terlalu tebal
tak ada lagi yang terlihat
nanti kamu sakit
istirahatlah hati
jangan paksakan
ini terlalu berat
nanti kamu patah
sadarlah hati
jangan lupakan kodrat
kamu hanya segumpal
cairan darah membeku
bernapaslah hati
pada udara bagianmu
haaaaahhhhhh,,,,,,,,,,,

Di hati ada kertas
tertuang disitu puisi jiwa
syair syair yang mengalir
tentang rembulan, tentang matahari dan bintang
tentang gelora, hasrat, cinta dan keagungan
tentang kebahagiaan,kesedihan,kehampaan dan harapan
dan tentang seribu tentang.


namun tanpa kata...
terbungkus rapi dikalbu


tak akan terbaca selama jiwa tangguh menanggung,,,
maaf,,jika ada mata hati yang mampu membaca
simpan ia direlung dada
karena puisi hati hanya untuk hati,,,,,,,

Dan Kemudian....,
sepi tersisih
terhimpit sesak rasa
asing di pelataran pesta
tersudut di sisi hati
hampa menindih
gundah mendera
merintih tercabik
sukma merana
meringkuk dalam sesak
ada tiada
tiada ada,,,,,,
pecah buyar asa
dilumat kecewa,,
ada cinta
kecewa ada
Sang Rahwana semena mena,,,,,
lepaslah,,lepas
hati bebas terlepas,,,
bernyanyilah riang
disetiap nafas

Dan akhirnya,,,
sepi adalah ruang kosong di palung jiwa
kesenyapan dalam perputaran detik waktu
kesunyian terdalam di sebuah belantara kehidupan
penjara kusam bagi hati dan fikiran

tapi sepi juga adalah sebuah makna
tantangan tuk mengisi ruang kosong
kesenyapan adalah ketersediaan waktu
tuk memperdengarkan siulan

kesunyian adalah kota ramai bagi ide ide
dan penjara kusam adalah landasan hati
dan fikiran menuju cakrawala kebebasan
maka ,,,
berapa banyak orang menjadi besar karena sepi
menjadi move on karena senyap
menjadi sukses karena sunyi
karena tiadalah mungkin disebut bebas
kecuali setelah terpenjara,,,,

Matt gahel Somamura

RASA



Gerimis di senja hari
turun gemulai menari indah
bulir bulirnya melayang
jatuh menetes menyentuh rasa
angin lembut menyibak
mega berbaris bergegas pergi
berhias sudah sang dewi malam
anggun melangkah sangat menawan
malam hening bersama bintang
genit menggoda lempar senyuman
bergemerisik rumpun bambu
oleh hati yang cemburu

Kemudian Aku,,
Menanti malam di lidah subuh
Menanti subuh di pintu matahari
Menanti siang di senja mengambang
Selama itu hanya coretan coretan di tanah
Semua isi hati tertuang disitu

Tentang sepi,tentang rindu dan harapan


Belum sempat angin mendengar
Belum sempat burung mengintip
Coretan itupun sirna terhapus jejak waktu
Tertindih di telapak kaki dan membisu

Seperti,..,Teriak tak bersuara
terlantar di pojok waktu
dingin menggigil berkeredong
menikmati duka 
meski wadah yang murni
cacat tergores rasa,
namun
sepi nan lembab,,
harus mampu mengenggam
hasrat yang meronta
pergi mengilang
atau tetap bertahan....
tak ada beda,,,,,,,,,,,,,,,,,, 

(seperti cerita majnun)
Majnun telah mengilhaminya tutur bahasa sastra yang indah
rasa rindu dan ketulusan jiwa dalam menanggung derita cinta
tumpah-ruah ia tuangkan dalam bentuk syair dan puisi
Kasih yang tak sampai
Hasrat yang tak mampu ditundukan
membuatnya merasa takdir memusuhinya
akhirnya Qais, pemuda yang tampan,gagah dan pandai
lupa hakikat hidupnya.
sementar Laela terus memanggil manggil namanya
hingga maut mengelusnya
Qais datang meratapi pusara Laela kekasinya
sampai ajal menjemputnya
harta tak mampu membeli cinta keduanya,,

(Majnun..)
selalu bersama embun di kelopak mata
saat aku tulis puisi untukmu
tercurah begitu saja
mengalir dari hulu hati
merayap di dinding nadi
Tak mungkin aku menangis
karena aku sedang bahagia
tapi airmata ini jatuh begitu saja
entah untuk apa
Jika saja kau hadir disini
membawa ember cintamu
dan menampung airmata ini
maka kebahagiaan mana lagi
yang mampu mengalahkan bahagiaku
karena ini adalah puisi hati
puisi hati dari hati
dan hanya untuk hati,,,,,,,
hati yang penuh air cinta
dan hati yang punya ember cinta.

(kenyataannya)
wahai hatiku yang penuh cinta
pergilah ke laut bersama galau,,
biarlah hancur dicabik Hiu,,
atau membusuk di perut cumi cumi
karena disini hadirmu tersisihkan
oleh indahnya syair syair pujangga
yang berpuisi diatas motor gede,
atau bersajak di pintu mobil bermerk
yang berdeklamasi diatas tumpukan
buku buku
yang ceramah dengan judul judul kitab
yang tertulis di jubahnya
yang berorasi di halaman kantornya
sembari menunjukkan pundaknya,
yang bernyanyi di genteng kontrakannya,
yang tersenyum manis di balik jaket almamaternya,,,
wahai hatiku yang penuh cinta
pergilah ke laut bersama galau,,


(pengakuan)
diatas tanah kering
angin riang mencandai debu
sejumput rumput ikut meramaikannya
dengan menari di bawah matahari
peluhnya tak lagi menetes
dan lututnya mulai gemetar
perlahan tangannya didekap ke dada
mengambil doa dari kantong hatinya
menghela napas ditaburan debu
memejam mata bergumam pada awan
berharap membawa embun
basahi daun daun harapan
kemudian ia mengangkat tangannya
di ujung jemari terselip lembaran kecil
bertuliskan ,,,,Aku lagi Galauuu,,,,,,,

Matt Gahel Somamura

GALUNGGUNG

sapaan angin pagi di puncak Galunggung
sejuk terasa sampai ke hati

semarak kilauan cahaya matahari di atas daun daun
menambah indah suasana

kabut menyambut sematkan selimutnya
memeluk mesra





hamparan pasir memanggil pasrah minta dijamah
hijau kuning pohon padi membentang menyejukan mata
tangga gunung berundak terbuka janjikan pesona
jalan meliuk seperti sungai alam menuntun citarasa
kawah mengepul mencandai manja



"senyum senyum mengembang diantara parkiran mobil
hadduhh,,pantesnya,,,makan baso hangat,,kopi jahe hangat sembari bercengkrama
setelah mandi di air terjunnya sembari selfy dengan gaya pangeran kodok"


Matt Gahel Somamura

Pagi Ini

piawai menggunakan kata
lemah ber-etika
keras berdebat
hancur dalam do'a

sepenggal kalimat di ubah menjadi pedang
sebaris sastra menusuk tepat di gumpalan darah
secarik kertas menghancurkan singgasana
sesekali menulis dan hanguslah alam semesta

haii.. ruh,,, coba palingkan jasad mu dari bawah
lihat lah sijjin dalam bumi supaya mereka paham
tujuh lapis bumi sekiranya mereka mendengar
tujuh lapis bumi menghilang dari kasat mata

teriak..teriak lah wahai ruh
sampai akhirnya kalian (ruh) hanya butuh akan Tuhan Mu

Pulang lah bersemi  bukan membeci
Dunia bermahkota tetap tertawa
Sempurna hanya milik semesta
Maha sempurna pemilik yang Esa

Pulang menginjak neraka, tanda bahaya  bukan masalah
Dunia sudah tua, mati adalah awal rintangan kehidupan
Sempurna hanya cerita, katanya dan Cuma katanya
Maha Esa Maha sempura pemilik semesta

Dan..,Pagi ini burung berkicau hanya  sebentar
Katanya,  jiwa burung itu sedang lelah dan hatinya membeku
Tapi ternyata burung tua itu, merasa kehilangan kesempurnaan
Pulang lah dalam kematian untuk menantang awal kehidupan yang sempurna



Syammas

Monolog Daun



Rindang Pohon Mengelilingi Sang Perantau

Daun Berguguran Masih Sangat Hijau

Di hiasi Kembang Mekar-merekah

Ada Harapan Untuk Berbuah


"Tanya ku" Haii Daun...kenapa tangkal mu begitu rapuh ??

"jawab sangka dalam hati" (Apa ada angin jahat, 
hingga Daun terhempas dan terpisah dari pertumbuhannya ??

Aaah...Memang Daun Saja sangat lemah, 
tidak dapat mempertahankan hempasan yang menghujamnya).

"Bentak ku sambil menatap Daun" Loh kok...di tanya cuma diam!!!

'Kasihan Daun.
Owh bukan...bukan karena terhempas,

Tapi kasihan tiadanya mulut tuk berbicara, Jadiii...andai berteriak pun,
siapa yang akan perduli, Sebab Daun BISU.

"mohon ku dengan melas" 
Dauuun...Ceritakan lah perasaan dan keinginan mu, 
supaya bangkai mu di pelataran taman ini bukan hanya sebatas di sapu 
kemudian di bakar bersamaan sampah yang tidak dapat di daur ulang kembali.

Daun...harusnya kamu bisa di perdayakan.
mungkin di awetkan untuk hiasan-hiasan yang indah.
sekali pun nafas mu sudah tiada namun keberadaan cangkang mu 
masih berguna tuk hiasan bohongan.

Syammas

BERBISIK




Meski cahaya peraknya tertahan awan
Tapi masih mampu menembus rimbun dahan

Saat angin mengelus manja
Sinarnya yang jatuh ke tanah bahkan menjadi sangat indah

Menari anggun menyapa ranting ranting kering yang berserakan
Bulannya begitu cantik
Dan Aku hanya berani mengintip, karena bayu berbisik
" Terang tak berbagi pada gelap"

biarlah di bawah saja
bersama rumput liar dan dahan kering
bermain tanah merawat akar
terus merajut
membariskan huruf terpisah
membuat pagar sekedarnya
sambil mendengarkan indahnya suara
burung burung yang berkicau
berusaha bernafas dari jiwa
agar dapat sedikit udara dari luasnya anugrah
dan mengambil manfaat dari singkatnya waktu
mencicipi setetes embun dari percikan telaga
berdiri sepijakan kaki di tanah membentang
datang sendiri
mengembara sendiri
pergi sendiri
kini di bawah senja sendiri
menanti senyuman kekasih,,,,,

rumput liar menjalar tebal
membalut gundukan tanah yang
membujur
helaian daun bambu berserak
bertindih kuntum kemboja yang
berguguran
di bawah pohon waru doyong
yang diam seribu bahasa
ilalang manggut manggut
seakan sedang memunguti
serpihan masa lalu
pohon angsana dan pohon ambon
dipeluk rimbunnya pohon beringin
saksi bisu yang kini mulai pasrah
dimakan zaman
di tengah batu berlumut yang
mengelilingi gundukan tanah
sebatang pohon mawar berduri
tumbuh tepat diatasnya
menghibur sepi lembabnya suasana
there's nothing to say anymore
life & love begin at the and,,,,,,

Matt Gahel Somamura

SANGKA

beberapa orang mengukur kedalaman
dan kesetiaan cinta kekasihnya
maka ia ketahui saat kekasihnya
menghianatinya
beberapa orang membawa cinta
tapi gagal karena syarat
dan ia terluka tapi tak mampu melukai
beberapa orang tak menerima cinta
karena merasa banyak cinta
sebelum akhirnya ia berenang
dalam genangan air mata darah
beberapa orang tak butuh cinta
cinta itu norak, lebay dan cengeng
tapi poto rontgen mendeteksi
virus TBC alias Tekanan Batin Cinta
pada hatinya

beberapa orang saling mencinta
tapi tak dapat restu
maka cinta adalah "perjuangan"
beberapa orang saling mencinta
tapi tidak selayaknya
maka cinta adalah "terlarang"
beberapa orang saling mencinta
dan jalan membentang
maka cinta adalah "harapan"
beberapa orang jatuh cinta
tapi tak terbalas
maka cinta adalah "kematian"
sayangnya,,kita tak bisa memilih
kepada siapa kita jatuh cinta


Beberapa orang
membendung rasa cintanya
dalam wadahnya,
cintanya jadi tak mengalir,
setiap detik ia timbain
sengaja membuangnya
tapi tak pernah kering,
malah semakin bertambah
Beberapa orang
menekan rasa cintanya
dalam-dalam dalam wadahnya.
wadahnya pecah.
iapun terseret hanyut dan tenggelam
tapi arus cintanya
terus deras mengalir,,



Matt Gahel somamura

Kehendak Tuhan



(Harapan)
kalau kamu mau,,,
bacakan aku sebait puisi
yang membuat hati ini menari
atau ceritakan dongeng
harapan tentang Tahta ini
sebagai abimantrana
bawakan aku secangkir air bening
sekedar sirami abipraya
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
duduk bersila seperti dewa petapa
tapi tak melihat dimana permata
jika warna pelangi adalah kasta abirupa
mengapa jiwa masih terbungkus abilasa
kutanam benih bersama lumpur,
entah mati entah bersemi
benih tertanam
dan yang terlihat hanya lumpur
tapi aku sudah menanam.
(Kenyataan)
saat hujan menebar cinta
maka hati siapa yang
mampu menghindar
tuk tidak menuai rindu
saat rindu terbelenggu
dalam sesaknya dada
resah mengoyak batas logika
maka siapa yang mampu
menahan titik embun
di kelopak mata
saat rindu membeku
dingin menusuk jiwa
maka siapa yang mampu
membuatnya cair
sebelum ia menggumpal
jadi hati
saat hujan menebar cinta
rindu adalah pendatang
maka siapakah yang mampu
menyadari
dikehendaki atau tidak
bahwa setiap yang datang akan pergi,,,

(serasa terkunci diantara keramaian)
di dalam sini gelap dan pengap
tanah dan dindingnya lembab
dingin sepi dan asing
jangankan tuk meronta
teriakpun tak bisa

di luar sana terdengar indah
obrolan bunga dan kumbang di taman
mentari yang bercanda dengan pelangi
deburan ombak yang melempar buih


kicauan burung dengan suara terindahnya
tarian dedauan yang digoda sang bayu
lagu lagu pujian tentang cinta
tentang Tuhan tentang kemurnian
tentang kesempurnaan tentang...entah.........


terkunci dari dalam, tanpa makanan
tanpa selimut tanpa musik tanpa matahari
menggigil dan gigit jari,

(Ingin Lepas)
sepi tersisih
terhimpit sesak rasa
asing di pelataran pesta
tersudut di sisi hati

hampa menindih
gundah mendera 
merintih tercabik
sukma merana

meringkuk dalam sesak
ada tiada
tiada ada,,,,,,
pecah buyar asa
dilumat kecewa,, 

ada cinta
kecewa ada
Sang Rahwana semena mena,,,,, 
lepaslah,,lepas
hati bebas terlepas,,, bernyanyilah riang
disetiap nafas

(Teringat Janji Kembali)
sesekali berasap
sesekali berkabut
sesekali pelankan
terus melangkah
selagi jalan membentang
bermain di dua alam
seperti menumpukan
dua kaki di dua perahu
diatas ayunan gelombang
menggapai harapan
berpangku tangan
seperti melihat nasi
tak mungkin kenyang
menanti janji yang tak terucapkan
lelah letih adalah bagian
saat janji ditunaikan
pedih perih adalah kebahagiaan

Matt Gahel Somamura

Sastra Lucu


(Sembilang)
diatas sebatang bambu
di tengah laut
kaki menjuntai dicumbu angin
gelombang gemulai menyapa
memberi kabar dari pekat malam
hening sepi melempar selendang
jauh diangkasa
gemerlap pijar gemintang
dan di bawah sipit mata rembulan
burung malam mengepak sayap
menembus dingin dalam gelap
sekilas angan terbang
mengintip pulau yang basah
mendengar ocehannya
mengapa ia betah disitu
belum lagi mata terbuka
tangan ini dikejutkan oleh kedutan
seakan membentak ,,cepaaat,,!
maka kutarik dengan hati
rasakan tariannya,,perlahan dan
hati hati,,,dan akhirnya,,,,,,,,
Sembilang Becak,,!!!
maka terhentilah puisi ini


(ILER)
kau hempaskan aku
ke pojok kekecewaan
aku tersungkur dan malu
kututupi wajahku dengan bantal
dan aku tertidur,,,,,
duri cintamu menusuk
menancap tepat di kantong liurku
begitu dalam dan aku mengiler,,,
kubiarkan ilerku menetes
mengalir sampai jauh
dan mengendap mengukir peta
peta pulau berbentuk lopE
LopE yang tertusuk
oleh batang mawar berduri


Matt Gahel Somamura

Sang pengembara

Misteri
teruslah menjadi misteri
buat hati ini menyusuri
melintasi hari tertusuk dingin sepi
Misteri
teruslah menjadi misteri
buat hati ini menyusuri
melintasi malam tak bertepi
terkoyak sunyi berduri
Misteri
teruslah menjadi misteri
buat hati ini menyusuri
bercucur darah berapi
rapuh dan mati
Misteri
teruslahlah menjadi misteri
sampai hati tertutup bumi
mendekap dingding ari
Misteri
teruslah menjadi misteri
sampai hati dibangkitkan kembali
dan jawaban tak dibutuhkan lagi.

(Mencoba)
Menggenggam air
hanyalah mimpi dalam mimpi
seperti mencari bias pelangi
di langit kelabu
tapi sang pengembara dungu
telah ditampar malaikat cinta
ia terus memburu kuntum mekar
sebelum akhirnya ia tersadar
oleh sambaran petir mulut mungil
sang bidadari
seketika itu
parfum sang Ratu tak harum lagi
kuntum mekar tak seindah dulu
pahit kecut memilah rasa
di ujung lidah yang dulu
seperti ada madu
percikan petir yang jatuh itu
kini tumbuh menjadi duri duri hampa
tertanam di bumi hati
Sang pengembara hanya terdiam
berjalan menutupi wajah buruknya
, mengenang kedunguannya"
"ia mungkin pernah melihat
tapi tak pernah kenal
dan mungkin ia pernah mencintai
tapi ia tak dicintai
dan ia tak pernah menyesalinya

(Di sudut hatinya)
wahai air yang mengalir
mengapakah kau tak sertakan
kotornya hatiku
mengalir bersama mu
wahai gunung yg perkasa
mengapakah tak kau
sediakan tempat bagiku
agar aku dapat membuang wajahku
disitu,,,,
tak adakah penjara di alam ini
untuk membelenggu "cinta liar" ini
wahai batu batu yang keras
sampaikan ini pada tuhan

(sedangkan)
diatas kanvas sepi berbingkai gerimis
mencoba mewarnai malam
sebatang kuas lincah menari
menorehkan tinta kenangan
sebaris terlukis indah
sebelum akhirnya kanvas terkoyak
ingin merajut
namun jarum terlanjur jatuh
dalam tumpukan jerami
benang yang tersedia
terpaksa harus ditelan
hingga otakpun kusut.

(akhirnya move on)
kutulis puisi ini untukmu
tapi kali ini tanpa airmata
karena aku malu pada hujan
yang membasahi kuntum kemboja
di taman rumahku
karena apalah arti airmata
jika membasuh matahati saja
tak mampu
layaknya membawa beban
keringat deras mengucur
namun saat angin semilir membelai,
keringat mengering
dan badan menjadi segar
seperti itu rindu dan kangenku
padamu
seperti lahar yang menggelora
mendidih dan bergemuruh
namun ketika salju membungkus
kuyakin ada kabut kan turun
membawa embun
haahh ademmmmm


Matt Gahel Somamura